My Life, Sumbawa Punya Cerita

Hitam Putih Awan di Penyaring

Malam itu temanku masuk ke kamar dengan senyum manisnya yang memang dapat membius semua orang. Dengan senyuman itu dia mengajakku untuk menemaninya merampung tugas fotografi yang memang kami berdua belum kerjakan. Dia menyebutkan nama tempat yang tak asing di telinga namun aku tak memiliki banyangan apa – apa sejujurnya. Tanpa fikir panjang pun aku iyakan ajakannya itu, entah besok aku pakai kendaraan siapa atau dengan siapa. Yang penting aku ikut.

Keesokan harinya aku sudah mendapatkan motor yang akan menjadi kendaraanku dan teman yang akan menemaniku. Tak ada yang menjadi beban pikiranku selain kamera apa dan milik siapa yang bisa aku gunakan untuk merampung tugasku ini. Namun aku tak terlalu mengambil pusing, temanku dengan kebaikan hatinya menawarkan handphone nya yang memiliki spesifikasi jauh lebih bagus dari milikku.

Aku yang benar – benar buta tentang tempat yang akan kami datangi berjalan dengan bahagia. Aaku berfikir ini akan menjadi pengalaman baru, ini adalah satu satu dari sekian banyak jalan – jalanku di pulau Sumbawa. Namun temanku mulai menceritakan sisi gelap yang akan aku lihat. Sepanjang jalan aku berfikir, apakah aku sanggup melihat ini? Atau apakah aku sanggup hidup di hidup yang mereka jalani?

Penjalanan terasa jauh lebih panjang, pemandangan indah tidak lagi menakjubkan dimataku. Pikiranku melayang jauh, jauh ke tempat di mana kuda – kuda berlari manusia berteriak, dan sunyi senyap suara hati nya anak – anak.

Saat sampai pun aku tak tau harus mulai dari mana, komentator sekaligus juri pacuan kuda sudah sibuk meng-absen kuda yang akan bertanding. Anak – anak kecil kelas 1 – 5 sekolah dasar bergantian di gendong dan dituntun ayahnya memacusi box start pacuan kuda. Ada juga yang berjalan sendiri, apakah mereka tau kemana mereka melangkah?

Temanku, yang seorang relawan sekolah komunitas, berkata bahwa box itu adalah hal paling menakutkan bagi joki – joki cilik. Mungkin rasanya saat pertama kali menaiki roller coaster atau seperti pertaruhan antara hidup dan mati? Aku tak tau. Kuda – kuda itu tak sabar untuk berlari, mungkin adrenaline mereka sudah terpacu. Aku bahkan bingung bagaimana meng-deskripsi-kannya.  Temanku bercerita seorang anak pernah terjepit di dalam box itu karena kudanya memaksa keluar lewat pintu yang tertutup. Dia menangis sekuat yang dia bisa tapi setelah itu dia harus menunggang kuda lagi. Taka ada kata lemah atau sakit untuk joki – joki cilik.

Bagaimana caranya aku mengerjakan tugas jika hatiku hancur sekaligus takjub. Munafik kalau aku tidak takjub. Disatu sisi aku bangga, aku bahagia karena mereka kuat. Beban ini berat, tapi mereka kuat. Atau memang aku yang tak bisa mendengar teriakannya dari tatapan kosong tanpa senyum itu? Apakah aku yang terlalu buta dan tuli? Aku tak tau.

Ketika aku sedang menonton (dan memotret) ada salah satu anak yang jatuh dari kuda saat sedang bertanding. Dia dibawa oleh walinya ke warung yang tak jauh dari area pacuan kuda, kupikir dia akan istirahat. Tak ada tangisan dari matanya atau rengekan manja yang keluar dari bibir munggilnya. Aku langsung memutuskan untuk menjadikan dia objekku. Aku jatuh cinta pada ketegarannya. Dengan mataku aku melihat dia berjalan pincang, ada darah dari kakinya.

Dengan hati – hati aku mendekatinya dan bertanya apakah aku boleh memotretnya, tanpa senyum dia menggelengkan kepalanya. Aku balas dengan senyum dan mengusap kepalanya “yaudah kalau nggak boleh, kakak nggak akan moto” tak kusangka dia malah tersenyum mendengar respondku. Aku memberanikan diri untuk memulai percakapan, dia merespond. Aku beranikan diri lagi untuk mengambil fotonya, dia mengiyakan. Tak banyak foto yang kuambil, hanyak dua, namun dia harus pergi lagi untuk menunggang kuda. Lukanya belum sembuh, bercak darah itu masih ada, dia masih jalan dengan susahnya, tapi angina panas di siang itu tak membiarkan dia ber-istirahat.

Jika bisa aku ingin tetap disana, menemani dan berkenalan dengan mereka satu persatu. Memeluknya dan mengusap kepalanya, atau sekedar mengetahui nama mereka dan memanggil nya dengan bibirku sendiri bukan dengan speaker yang memanggil nama kuda – kuda dengan nama mereka.

Dibalik sorai – sorai penonton, dibalik uang di dalam amplop yang berisi ratusan sampai jutaan rupiah, dibalik terikan ibu – ibu dan wali joki – joki cilik, aku melihat sisi lain yang gelap. Sisi yang penuh dengan awan hitam putih, yang berisi sedikit tawa dan sedikit senyum. Aku tak menyalahkan siapa – siapa, bukan keinginan mereka untuk menjadi joki cilik, bukan keinginan sang ibu untuk mengobarkan keselamatan anaknya. Bukan merekaa yang memilih takdir ini, takdir yang memilih mereka.

Aku pulang dengan perasaan kacau, aku harus kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s